07.02

Sejarah Berdirinya Hizbul Wathan

Diposkan oleh GERAKAN KEPANDUAN HIZBUL WATHAN KOTA YOGYAKARTA


Sejarah Berdirinya Kepanduan Hizbul Wathan

Hizbul Wathan adalah Organisasi Otonom (ORTOM) Muhammadiyah yang bergerak dalam bidang kepanduan. Hizbul Wathan didirikan oleh KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta, yang bertempat di Kauman. Awal mula berdirinya kepanduan ini dikarenakan kekaguman KH Ahmad Dahlan ketika beliau melihat barisan yang rapih nan indah dangan memakai seragam yang sangat bagus, barisan itu sedang berlatih di alun-alun tepatnya di pura mangkunegaran, kota Surakarta. Saat itu beliau sedang berjalan seusai pulang dari pengajian STAF (Sidiq, Tabliq, Amanah, Fathonah) yang diadakan setiap hari ahad. Barisan yang dilihat oleh beliau bernama Javaansche Padvinders Organisatie (J.P.O). sepulang dari Surakarta beliau terinspirasi untuk membentuk kepanduan, beliau memanggil Bapak Sarbini dan Bapak Somodirdjo untuk mengutarakan perihal yang menarik perhatian beliau sewaktu di Surakarta.

Dari hasil pertemuan beliau itu, akhirnya pada tahun 1336 H yang bertepatan dengan tahun 1918 M, didirikanlah kepanduan dengan nama Padvinder Muhammadiyah yang di kemudian hari namanya berganti menjadi Hizbul Wathan yang mempunyai arti “pembela yang cinta tanah air” nama Hizbul Wathan ini diusulkan oleh Bapak Hadjid, dan diresmikan pergantian namanya di rumah Bapak H. Hilal. Namun, pada tahun 1943, kepanduan Hizbul Wathan bersama dengan kepanduan lainnya dibubarkan oleh pemerintahan penjajahan jepang. Kemudian dengan segala daya dan upayanya pada tanggal 29 januari 1950, Hizbul Wathan bangkit kembali dengan berbagai perubahannya, akan tetapi tidak begitu lama pada tanggal 9 maret 1961, presiden mengeluarkan amanat agar seluruh kepanduan di Indonesia dilebur menjadi satu kedalam pramuka dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor: 238/61.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya pada tanggal 10 sya’ban 1420 H bertepatan dengan tanggal 18 november 1999 M, Hizbul Wathan bangun dari tidur panjangnya. Hizbul Wathan di bangkitkan kembali oleh pimpinan pusat muhammadiyah dengan keputusan No. 92/S.K.PP/VI-B/1.b/1999 M. dan dipertegas lagi dengan surat keputusan pimpinan pusat muhammadiyah nomer: 10/KEP/1.0/B/2003 M tanggal 1 Dzulhijjah 1423 H / 2 Februari 2003.

0 komentar:

Poskan Komentar